Akhir-akhir ini, entah kenapa
termasuk malam ini, aku begitu nikmat mendengarkan lagu yang bahasanya mulai
tak asing di telinga, ya, lagu jawa – Kusuma Wijaya, sambil menikmati
tetes-tetes Berry Mint Tea, begitu
tulisan di struknya. Ah, rasanya tak ada bedanya dengan teh-teh kemasan
biasanya. Namanya saja yang keren, batinku. Tidak sebagaimana biasanya, yang
kalau sudah berlipat kaki di kedai kopi, pastilah berteman vietnam drip,
tidak lupa, kopinya harus toraja.
Malam ini, dengan raut wajah terheran-heran,
mas kasir kedai kopi yang katanya tempat pencucian uang itu menimpali pertanyaanku yang menanyai apa saja
menu non-coffenya. Tumben gak ngopi, mas, timpalnya. Tak ku hiarukan
pertanyaannya yang mungkin hanya basa-basa itu, atau memang betul-betul ia
terkejut, tapi sudah lah itu tidak jauh lebih penting dari peringatan calon
istriku untuk tidak sering-sering menyeruput kopi, tidak sehat katanya.
“Kopi Sudut Gang,” sebuah nomenklatur
kedai kopi yang selalu sepi, sunyi, tapi juga selalu buka. Tak lama pula
durasinya, dari pukul 15.00 – 21.00, yang di lima menit terakhir pegawainya
sudah berpura-pura membersihkan meja meski tak kotor, karena tak enak hati
mengusir. Pantas saja disangka tempat pencucian uang. Jualan bukan untung malah berbuntut rugi.
Mungkin pemiliknya orang yang gemar sedekah, sesekali ada baiknya aku berpikir
seperti itu. Kopinya enak. Ajaibnya tempat ini, setiap kali aku duduk di meja
bundar dengan empat kursi mengelilinginya, ada saja jin-jin “kata” yang mencoba
membisiki telingaku untuk menulis. Tulisan ini salah satunya. Ku nikmati saja
bisikannya, hitung-hitung senam jari setelah mondar-mandir berhari-hari
memegang pangkal stir motor beat karbu yang cukup boros bensin itu.
.........................
lima menit setelah ku tempelkan
bokong teposku ke kursi kayu mengkilat itu, datanglah teh bernama asing yang
seperti kubilang tadi, namanya saja keren, rasanya, ya beitu-begitu saja.
Kuseruput pelan-palan, tercium aromanya yang juga tak jauh beda dari teh kampul
angkringan bang Jeck. Ini adalah perayaan kecil atas lembar-lembar uang yang
masuk ke dalam kartu ATM ku siang tadi. Seperti kata Joko Pinurbo, "Kurang
atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi."
Tapi, dengan segala takzim dan tanpa
mengurangi rasa hormat ke Pak Joko, kali ini kurayakan dengan secangkir teh
asing. Sebenarnya, ini tidak hanya perayaan kecil (aku ingin menulis ‘tidak
sekadar perayaan kecil….’ tapi nanti pasti dituduh menggunakan AI (Kecerdasan
Buatan) sebab ‘sekadar’ sudah begitu familiar di telinga pengguna Akal Imitasi
itu) ini petualangan memecahkan misteri “Kopi Sudut Gang.”
Sebulan yang lalu, tiga pria
berkepala botak, satunya menggunakan singlet hingga terang bulu ketiaknya
menari-nari ditiup angin, berkunjung ke Kopi Sudut Gang. Entah hajat apa yang
mereka tunaikan di sana. Tidak lama, hanya berselang dua atau tiga menit mereka
keluar dengan muka sumbringah. Baru seminggu yang lalu kuketahui kabarnya,
bahwa pegawai perempuan kedai dicabuli orang tak dikenal. Pantas saja tak lagi
tercium bau parfumnya akhir-akhir ini. Buset, botak ejakulasi dini, batinku.
Bersambung...

0 Comments